Spread spectrum
Spread spectrum
I. PENDAHULUAN
Spread
spectrum adalah sebuah metode komunikasi dimana semua sinyal komunikasi disebar
di seluruh spektrum frekuensi yang tersedia. Pada awalnya dikembangkan untuk
kepentingan militer dan intelejen. Ide dasarnya adalah untuk menyebarkan sinyal
informasi melalui bandwidth yang lebih luas untuk mencegah dilakukannya
pencegatan informasi dan gangguan-gangguan lainnya. Istilah spread spectrum
digunakan karena pada sistem ini sinyal yang ditransmisikan memiliki bandwidth
yang jauh lebih lebar dari bandwidth sinyal informasi (mencapai ribuan kali).
Proses penebaran bandwidth sinyal informasi ini disebut spreading. Spread
spectrum jenis pertama yang dikembangkan dikenal dengan nama frequency hopping
atau lompatan frekuensi. Versi yang terbaru adalah direct squence spread
spectrum. Kedua teknik ini dipergunakan dalam berbagai produk jaringan
nirkabel. Selain itu juga untuk berbagai aplikasi lainnya, seperti telepon nirkabelt
(cordless telephone). Sebuah sistem spread-spectrum harus memenuhi kriteria
sebagai berikut :
- Sinyal yang dikirimkan menduduki bandwidth yang jauh lebih lebar daripada bandwidth minimum yang diperlukan untuk mengirimkan sinyal informasi
- Pada pengirim terjadi proses spreading yang menebarkan sinyal informasi dengan bantuan sinyal kode yang bersifat independen terhadap informasi
- Pada penerima terjadi proses despreading yang melibatkan korelasi antara sinyal yang diterima dan replika sinyal kode yang dibangkitkan sendiri oleh suatu generator lokal.
Dalam
komunikasi spread spectrum semakin lebar bandwidth akan semakin tahan terhadap
jamming dan akan semakin terjamin tingkat kerahasiaannya. Disamping itu akan semakin
banyak kanal yang bisa dipakai. Seperti yang di terangkan oleh Shanon , salah
seorang ahli statistik telekomunikasi, dalam ilmu komunikasi dinyatakan bahwa
kapasitas kanal akan sebanding dengan bandwidth transmisi dan logaritmik dari
S/N-nya. Jadi agar sistem komunikasi dapat bekerja dengan kapasitas kanal yang
tetap pada level daya noise yang tinggi (S/N yang rendah), dapat dilakukan
dengan jalan memperbesar bandwidth transmisi W. Disamping itu Shannon juga
mengemukakan bahwa sebuah kanal dapat mentransmisikan informasi dengan
probabilitas salah yang kecil apabila terhadap infromasi tersebut dilakukan
pengkodean yang tepat dan rate infromasi yang tidak melebihi kapasitas kanal
meskipun kanal tersebut memuat interferensi acak.
II. Konsep dari Sistem Spread
Spectrum
Gambar diatas menyajikan gambaran tentang karakteristik kunci
beberapa sistem spektum penyebaran. Input dimasukkan ke dalam suatau channel
enkoder yang menghasilkan sebuah sinyal analog dengan bandwidth sempit relatif
di seputar beberapa frekuensi pusat. Sinyal ini kemudian dimodulasikan
menggunakan deretan digit-digit tidak beraturan yang disebut pseudorandom
sequence. Efek dari modulasi ini adalah untuk meningkatkan secara signifikan
bandwith (yang menyebarkan spektrum) sinyal yang ditransmisikan. Pada ujung
penerima, deretan digit yang sama di gunakan untuk mendemodulasikan sinyal
spektrum penyebaran. Terakhir sinyal dimasukkan ke dalam sebuah channel dekoder
untuk melindungi data.
III Keuntungan
- Imunitas dari berbagai noise dan multipath distortion
- Termasuk gangguan (Jamming)
- Dapat mengacak sinyal
- Hanya receiver yang mengetahui pengacakan kode dapat mendapat kembali sinyal
- Beberapa user dapat mengunakan bandwidth yang lebih besar dengan sedikit interferency
- Telepon seluler
- Code division multiplexing (CDM)
- Code division multiple access (CDMA)
IV. Jumlah Pseudorandom
Komentar mengenai jumlah pseudorandom adalah
ordenya. Jumlah ini didapat melalui suatu algoritma menggunakan beberapa nilai
awal yang disebut seed. Algoritma tersebut dapat ditentukan dan karenanya
menghasilkan deretan bilangan yang tidak acak secara statistik. Bagaimanapun
juga, bila algoritmanya baik, deretan yang dihasilkan akan melalui beberapa
ujian yang memeriksa kecakapannya. Jumlah – jumlah semacam itu ditunjukkan sebagai
pseudorandom number. Poin terpenting dari hal ini adalah walaupun mengetahui
tentang algoritma dan seed, sangatlah sulit untuk memprediksikan deretan
tersebut. Oleh sebab itu, hanya receiver, yang membagi informasi ini dengan
sebuah transmitterlah yang mampu mengkodekan sinyal dengan sukses.
V. Sifat – Sifat Random
Apakah sifat sinyal pseudo random akan mampu
mewakili suatu sinyal yang benar – benar random? Ada 3 sifat dasar untuk
mengetahui apakah sekuen biner dapat memenuhi kriteria random.
- Balanced property
- Kondisi balance (seimbang) untuk sekuen biner yang bagus mensyaratkan jumlah bit 1 dan jumlah bit 0 yang muncul sama. Beda yang diijinkan maksimum adalah 1 digit.
- Run Property
- Suatu run didefinasikan sebagai suatu sekuen tipe single pada bit – bit (binary digit). Kemunculan digit yang berlawanan dalam suatu sekuen akan memenuhi run yang baru. Panjang run adalah jumlah digit – digit didalam run. Pada suatu periode yang tersusun dari 1 dan 0, diketahui bahwa 0.5 run masing – masing tipe 1, sepanjang sekitar 1/4 panjang 2, dan 1/8 pada panjang 3,dst.
- Correlation Property
- Jika suatu periode pada sekuen dibandingkan secara term by term dengan suatu siklus yang digeser terhadap dirinya sendiri, akan didapat periode dimana sinyal itu akan memiliki perulangan. Pada dua sinyal dengan periode yang sama, to s/d tn, maka keduanya benar-benar mirip. Kondisi ini dalam bentuk ternormalisasi memiliki nilai korelasi 1. Untuk suatu kondisi dimana bentuk sinyal pertama bertolak belakang dengan sinyal kedua, maka dinyatakan memiliki korelasi –1. Gambaran korelasi dua sinyal secara sederhana seperti Gambar berikut ini. Gambar a dan b memiliki korelasi 1, sedangkan gambar a dengan c memiliki korelasi –1.
VI. Jenis Spread Spectrum
A. Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS)
Dalam skema Frequency Hopping Spread Spectrum, sinyal
disiarkan sepanjang rangkaian frekuensi radio yang kelihatannya acak, melompat
dari frekuensi ke frekuensi pada titik pisah (split-socond intervals). Sebuah
receiver, melompat di antara frekuensi secara sinkron dengan transmitter, lalu
menangkap pesan. Sehingga orang-orang yang berusaha mendengarkan secara diam
diam hanya akana mendengar bunyi titik titik yang tidak jelas. Upaya untuk
mengganggu sinyal hanya akan berhasil dengan cara menghantam sedikit bit-nya.
Untuk transmisi data biner dimasukkan ke dalam sebuah
modulator dengan menggunakan beberapa skema pengkodean digital-ke-analog,
semacam Frequency-shift keying(FSK) atau Binary Phase-Shift Keying(BPSK).
Sinyal yang dihasilkan dipusatkan disekitar beberapa frekuensi dasar. Sumber
jumlah pseudorandom menyajikan apa yang dilampirkan dalam indeks didalam tabel
frekuensi. Pada masing masing interval yang berurutan, dipilih sebuah frekuensi
baru dari tabel. Frekuensi ini kemudian dimodulasikan melalui sinyal yang
dihasilkan dari modulator awal agar menghasilkan sinyal yang baru dengan bentuk
yang sama namun sekarang dipusatkan di tengah tengah frekuensi yang dipilih
dari tabel.
Sedangkan pada penerima, sinyal spektrum penyebaran
didemodulasikan menggunakan sejumlah frekuensi yang sama yang didapatkan dari
tabel kemudian didemoduasikan agar menghasilkan data output. Sebagai contoh,
bila FSK digunakan, modulator memilih salah satu dari dua frekuensi, katakanlah
f0 atau f1, berkaitan dengan transmisi biner 1 atau biner 0.Sinyal FSK biner
yang dihasilkan diartikan ke dalam frekuensi melalui suatu jumlah yang
ditentukan melalui urutan output dari generator sumber pseudorandom. Sehingga,
bila frekuensi yang dipilih pada waktu I adalah f1 maka sinyal pada waktu I
adalah baik fi + fo maupun fi + f1.
Sinyal ditransfer secara bergantian dengan
menggunakan 1MHz atau lebih dalam rentang sebuah pita frekuensi tertentu yang
tetap. Prinsip dari metoda frequency hopping adalah menggunakan pita yang
sempit yang bergantian dalam memancarkan sinyal radio. Secara periodik antara
20 sampai dengan 400ms (milidetik) sinyal berpindah dari channel frekuensi satu
ke channel frekuensi lainnya. Pita 2.4GHz dibagi-bagi ke dalam beberapa sub
bagian yang disebut channel/kanal. Salah satu standar pembagian channel ini
adalah sistem ETSI (European Telecommunication Standard Institute) dengan
membagi channel, dimulai dengan channel 1 pada frekuensi 2.412MHz, channel 2
pada frekuensi 2.417MHz, channel 3 pada frekuensi 2.422MHz dan seterusnya
setiap 5MHz bertambah sampai channel 13.
Dengan teknologi DSSS maka untuk satu perangkat
akan bekerja menggunakan 4 channel (menghabiskan 20MHz, tepatnya 17MHz). Dalam
implementasinya secara normal pada lokasi dan arah yang sama hanya 3 dari 13
kanal DSSS yang bisa dipakai. Parameter lain yang memungkinkan penggunaan lebih
dari 3 channel ini adalah penggunaan antena (directional antenna) dan
polarisasi antena itu sendiri (horisontal/vertikal).
Slow and Fast FHSS
- Frekwensi bergeser tiap-tiap Tc Detik
- Durasi dari signal element adalah Ts detik
- Ts³Slow FHSS memiliki Tc
- Fast FHSS memiliki Tc < Ts
- Biasanya fast FHSS memberikan improved performance dalam noise (or jamming)
Slow Frequency Hop Spread Spectrum menggunakan MFSK (M=4, k=2)
Fast Frequency Hop Spread Spectrum menggunakan MFSK (M=4, k=2)
B. Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS)
Direct Sequence Spread Spectrum dipilih karena
adanya kemudahan dalam mengacak data yang akan dispreading. Dalam DSSS
spreading hanya menggunakan sebuah generator noise yang periodik yang di sebut
Pseudo Noise Generator. Kode yang digunakan pada sistem spread spectrum
memiliki sifat acak tetapi periodik sehingga disebut sinyal acak semu (pseudo random).
Kode tersebut bersifat sebagai noise tapi deterministik sehingga disebut juga
noise semu (pseudo noise). Pembangkit sinyal kode ini disebut Pseudo Random
Generator (PRG) atau pseudo noise generator (PNG). PRG inilah yang akan
melebarkan dan sekaligus mengacak sinyal data yang akan dikirimkan. Dalam skema
ini, masing masing bit pada sinyal yang asli ditampilkan oleh bit- bit multipel
pada sinyal yang ditransmisikan, yang disebut kode tipis(chipping). Kode tipis
yang menyebarkan secara langsung sepanjang band frekuensi yang lebih luas
sebanding dengan jumlah bit yang dipergunakan. Oleh karena itu, kode tipis
10-bit menyebarkan sinyal sepanjang band frekuensi yang 10 kali lebih besar
dibandingkan kode tipis 1-bit.
Satu teknik dengan spektrum penyebaran deretan langsung
adalah dengan mengkombinasikan stream informasi digital dengan bit stream
pseudorandom menggunakan OR-eksklusif contoh pada gambar 6.
Patut dicatat bahwa bit informasi dari satu membalikan
bit-bit pseudorandom dalam kombinasi tersebut, sementara bit informasi 0
menyebabkan bit-bit pseudorandom ditransmisikan tanpa mengalami inversi.
Kombinasi bit stream memiliki data rate yang sama dengan deretan pseudorandom
yang asli, sehingga memiliki bandwidth yang lebih lebar dibandingkan dengan
stream informasi. Pada contoh ini, bit stream lebih besar 4 kali lipat rate
informasi.
Gambar 7 menunjukkan implementasi deretan langsung yang
khusus. Dalam hal ini, stream informasi dan stream pseudorandom bahkan
dikonversi ke sinyal-sinyal analog lalu dikombinasikan, bukannya menunjukkan
OR-eksklusif dari dua stream dan kemudian memodulasikannya. Penyebaran spektrum
dapat dicapai melalui teknik deretan langsung yang ditentukan dengan mudah.
Sebagai contoh, anggap saja sinyal informasi memiliki lebar bit sebesar tb yang
ekuivalen terhadap rate data = 1/tb. Dalam hal ini, bandwidth sinyal tergantung
pada teknik pengkodean, kira-kira 2/tb. Hampir sama dengan itu, bandwidth
sinyal pseudorandom asalah 2/Tc dimana Tc adalah lebar bit pseudorandom input.
Bandwidth sinyal yang dikombinasikan kira-kira sebesar jumlah dari 2 bandwidth
tersebut. Jumlah penyebaran yang dicapai adalah hasil langsung dari rate data
pseudorandom. Semakin besar data rate pseudorandom input, semakin besar jumlah
penyebarannya.
Contoh Direct Sequence Spread Spectrum Menggunakan BPSK
Approximate spectrum sinyal DSSS
Sumber :
-
http://tewe.wordpress.com/2008/05/29/spread-spectrum/












0 komentar:
Posting Komentar